Type something and hit enter

ads here
advertise here
Gereja Makam Suci (Church of the Holy Sepulchre) merupakan tempat tradisional makam Yesus Kristus dan menjadi salah satu titik lahirnya agama Kristen. (www.wherejesuswalked.org)

Dalam bukunya “100 Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah,” Michael H. Hart menyebutkan bahwa ada dua tokoh yang menyebabkan Kristianitas mendapatkan wujudnya saat ini: Yesus Kristus dan Santo Paulus. Menurut Hart, Yesus Kristus meletakkan dasar-dasar spiritual bagi agama ini, sementara Santo Paulus meletakkan dasar-dasar pemujaan bagi Yesus Kristus secara teologis. Dengan peran besar dua tokoh ini, Kristianitas lahir sebagai agama terbesar di dunia kini.

Sejarah Kristianitas tidak dapat dilepaskan dari sejarah Judaisme sebelum hancurnya Bait Allah Kedua pada tahun 70 M. Seorang tokoh bernama Yesus lahir di sebuah kota kecil di propinsi Romawi, Judaea, dan kemudian para pengikutnya mengklaim Yesus sebagai Mesias, atau yang disebut Kristus. Pernyataan ini mengakibatkan konfrontasi dengan umat Yahudi, yang menolak klaim Yesus sebagai Mesias.

Yesus Kristus

Tokoh bernama Yesus ini dilahirkan pada tahun 4 SM di sebuah kota kecil Betlehem. Bagi para penganut Kristianitas, Yesus dilahirkan secara ‘ajaib’ dari Perawan Maria melalui bantuan Roh Kudus, yang dikenal sebagai ‘dikandung tidak bernoda’ (immaculate conception). Tidak banyak mengenai masa kecil Yesus yang diketahui, sampai ketika usianya menginjak sekitar tiga puluh tahun, ketika Ia memulai karyaNya. Yesus lahir dan berkarya dalam situasi yang cukup rumit: kaum Yahudi terbagi dalam berbagai faksi religius-politis, sementara mereka juga menanti-nanti seorang tokoh pembebas yang akan memerdekakan mereka dari penjajah, yang disebut Mesias.

Cara Yesus berkarya menarik banyak pengikut. Yesus menggunakan mujizat dan perumpamaan (parables) untuk menyampaikan pesan-pesanNya. Di sisi lain, Yesus juga mematahkan berbagai norma sosial yang berlaku di kalangan penganut Judaisme, misalnya mengenai berinteraksi dengan penderita penyakit menular, memberikan persembahan, dan hubungan dengan kaum wanita. Yesus kemudian diklaim sebagai Mesias yang dinanti-nantikan oleh para pengikutNya.

Ajaran yang kontroversial

Meski demikian, berbagai ajaran Yesus justru dianggap menyimpang oleh kaum rohaniawan Yahudi (yang turut terlibat dalam politik). Di antara berbagai hal kontroversial yang dilakukan oleh Yesus dan pengikut-pengikutNya adalah ketika Ia memutarbalikkan meja para penukar uang di Bait Allah, dan ketika Ia mengatakan bahwa Bait Allah akan diruntuhkan (dan bahwa Ia mengklaim dapat mendirikannya kembali dalam tiga hari). Dengan demikian, Yesus menjadi ‘target utama’ untuk dihabisi oleh para petinggi Yahudi. Pada suatu hari menjelang Paskah di tahun 30 M atau 33 M, Yesus ditangkap, diadili oleh baik otoritas religi kaum Yahudi dan penguasa Romawi, dan dihukum mati dengan disalibkan. Dengan demikian, gerakan Kristianitas seolah mati dengan dihukum matinya pemimpin kelompok ini.

Peristiwa yang kemudian meletakkan dasar gerakan Kristianitas adalah pada hari ketiga setelah kematianNya, pengikut-pengikutNya mengklaim bahwa Ia bangkit dari kematian. Kebangkitan Yesus – dan kenaikanNya ke surga – menandai landasan iman bagi agama yang baru berdiri ini.

Tokoh paling berpengaruh berikutnya: Paulus

Meski demikian, penyebaran agama ini baru saja dimulai. Seperti yang ditulis oleh Hart dalam bukunya, pendirian dan penyebaran ajaran Kristianitas dipengaruhi oleh dua tokoh besar, di mana tokoh lainnya adalah Santo Paulus. Paulus lahir dengan nama Saulus, dan merupakan seorang Yahudi yang belajar pada guru agama besar Gamaliel. Pada awalnya, ia melakukan pengejaran, penyiksaan, dan pembunuhan terhadap jemaat Kristiani mula-mula. Meski demikian, dalam suatu perjalanan ke kota Damaskus, disebutkan bahwa ia melihat sebuah cahaya terang diiringi suara, “Saulus! Saulus! Mengapakah engkau menganiaya Aku?” Dirinya kemudian bertobat dan mengganti namanya menjadi Paulus.

Berbeda dengan satu tokoh besar Kristianitas lainnya, Santo Petrus, Santo Paulus melakukan penyebaran agama terhadap kaum non-Yahudi (gentiles). Hal ini menyebabkan berbagai ketegangan pada awalnya, dikarenakan pemikiran awal khususnya dari pada rasul Yesus bahwa keselamatan hanya datang untuk orang Yahudi saja – sementara mereka yang bukan Yahudi harus tetap menyesuaikan diri terhadap hukum Yahudi. Hal ini ditentang oleh Santo Paulus dalam surat-suratnya (epistles) yang menyusun lebih dari separuh Alkitab Perjanjian Baru. Ketegangan ini baru dapat diselesaikan setelah sebuah pertemuan di Yerusalem, dan Paulus menjalankan misinya kepada kaum non-Yahudi.

Tantangan: Romawi Kuno

Di kemudian hari, muncul dua tantangan cukup besar terhadap lahir dan berkembangnya ajaran Kristianitas. Tantangan pertama adalah menghadapi kekaisaran Romawi. Ajaran Kristianitas dianggap sebagai ajaran menyimpang dari agama-agama Romawi yang menyembah banyak dewa (politeis), berbeda dengan ajaran Kristiani yang menyembah hanya satu Tuhan (monoteis). Kaum Kristiani menghadapi kesulitan khususnya ketika para kaisar menuntut pemujaan terhadap para dewa-dewi dan terhadap dirinya sendiri yang dianggap sebagai dewa juga. Mereka yang menolak harus menghadapi siksaan atau bahkan dibunuh. Maka lahirlah para ‘martir’, sebuah sebutan yang berasal dari kata yang berarti ‘saksi’, namun merujuk kepada mereka yang mati demi iman mereka.

Tantangan besar kedua adalah untuk menyatukan ajaran-ajaran Kristiani yang ada menjadi satu. Pada awal-awal milenium pertama ada banyak ajaran yang sama-sama percaya pada Yesus, namun berbeda dalam berbagai kepercayaan pendukungnya. Muncul banyak perdebatan yang membutuhkan upaya penyatuan. Ketika masalah besar mereka, penganiayaan, praktis berakhir setelah Konstantinus Agung menjadikan Kristianitas agama negara Romawi pada abad keempat Masehi, masalah kedua ini akhirnya dapat sedikit demi sedikit diselesaikan. (aevahistorica)

Click to comment